{"id":582,"date":"2020-05-07T04:55:16","date_gmt":"2020-05-07T04:55:16","guid":{"rendered":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/?p=582"},"modified":"2020-05-26T04:32:17","modified_gmt":"2020-05-26T04:32:17","slug":"opini-publik-refleksi-hari-pendidikan-cita-cita-luhur-pendidikan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/?p=582","title":{"rendered":"POJOK OPINI : Refleksi Hari Pendidikan (Cita-cita luhur Pendidikan Indonesia)"},"content":{"rendered":"\n<h5 class=\"has-text-align-center wp-block-heading\">Refleksi Hari Pendidikan : Cita-cita luhur Pendidikan Indonesia<\/h5>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">(Oleh : Adam Dewo Pratama)<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap awal bulan Mei tepatnya pada\ntanggal 2, seluruh insan akademis Indonesia merayakan harinya yaitu Hari\nPendidikan&nbsp; Nasional (Hardiknas). Adanya\nhardiknas ini tidak terlepas dari bagaimana sejarah panjang dunia pendidikan di\nIndonesia sejak zaman kolonialisme. Pengambilan tanggal tersebut bertepatan\ndengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, beliau terkenal dengan orang yang\nmenentang sistem pendidikan pada masa kolonialisme Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Di era kolonialisme, pendidikan\nhanya mampu dienyam oleh orang-orang keturunan Belanda, bangsawan, konglomerat\ndan juga kalangan ningrat. Sehingga para kaum pribumi yang miskin menjadi kaum\nyang terpinggirkan dan tak mampu mengeyam bangku pendidikan. Belanda tidak\nmemberikan kebebasan pendidikan, hal ini mungkin agar pola pikir rakyat pada\nsaat itu tidak menjadi cerdas sehingga Kolonialisme akan tetap berjalan karena\nhanya sedikit para kaum intelektualnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerasnya kritik Ki Hajar Dewantara membuat respon keras juga dari pihak Belnanda. Hingga pada akhirnya beliau harus diasingkan ke negeri Belanda. Namun, usaha pengasingan tersebut tidak membuat cita-citanya yang tinggi untuk memajukan pendidikan di Indonesia menjadi ciut, bahkan selepas pulang dari Belanda beliau mendirikan sekolah <em>Taman Siswa. <\/em>Sekolah Taman Siswa menjadi pelopor gerakan pendidikan yang ada di Indonesia.Taman siswa didirikan untuk memeperkenalkan pendidikan kepada masyarakat Indonesia agar menjadi bangsa yang merdeka dari penjajahan intelektual. Perkembangan sekolah ini terus berlanjut hingga mempunyai Perguruan Tinggi Sarjanawiyata Taman Siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendirian lembaga pendidikan ini\nsangat tepat, karena pendidikan merupakan upaya untuk membeaskan manusia. Paulo\nFreire juga berpendapat bahwa fungsi pendidikan merupakan alat yang membebaskan\nmanusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan atau juga bisa\ndisebut upaya <em>memanusiakan manusia <\/em>(humanisasi). Konsep pendidikan\nFreire menempatkan pendidik dan peserta didik sebagai subyek dalam proses\npendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Deklarasi pendirian Perguruan\nNasional pada 23 juli 1922 menjadi pemantik kobaran api agar seluruh masyarakat\nmempu terbebas dari kungkungan penjajahan intelektual. Sehingga, munculah\nsebuah konsep awal pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar dewantara dengan\nsebutan <em>Patrap Triloka<\/em>. Asas-asas tersebut kini dikenal luas oleh\nberbagai kalangan yang menjadi panutan dalam dunia pendidikan Indonesia. Di era\nglobalisasi maka asas-asas tersebut harus mampu dielaborasi lagi maknanya agar\nsesuai dengan perkembangan teknologi dan juga zaman. &nbsp;<em>Patrap triloka <\/em>&nbsp;berisikan :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><em>Ing ngarso sung\ntulodho, <\/em>yang berarti didepan memberi\nteladan. Asas ini dapat dimaknai lebih egaliter&nbsp;\nlagi dimana, guru tidak Cuma harus memberi contoh baik itu dari teladan\nkedisiplinan, sopan santun danjuga sikap yang baik. Namun, diera milenial ini\nguru juga harus mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru juga harus terus\nbelajar tanpa henti untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan menunjukan\nkerja pembelajaran kepada para siswanya.<\/li><li><em>Ing madya\nmangun karsa, <\/em>berarti\nditengah memberi motivasi. Diera globalisasi seperti ini, guru dan siswa\nmemiliki pola hubungan yang egaliter. Bahkan, hubungan diantaranya bisa\nbersifat kolaborasi diantara keduanya. Sebagai seorang yang memberi motivasi\nguru menjadi salah satu kunci kesuksesan siswanya. Hal ini merupakan unsur\nekstrinsik yang mempengaruhi kesuksesan belajar. Selain dari unsur dalam siswa\nseperti semangat belajar. Arus globalisasi membuat guru dituntut untuk kreatif\ndalam mengemas berbagai pelajaran dalam bentuk media apapun. Sistem mengajar\ndengan <em>game based learning<\/em> dapat digunakan untuk menggugah siswa untuk\nbelajar. Penggunaan pola-pola belajar juga dapat digunakan pula melalui adopsi\ndari negara Amerika dan Eropa agar siswa tidak jenuh dengan suasana belajar<\/li><li><em>Tut wuri\nhandayani, <\/em>dibelakang memberi dukungan. Makna\ndari ungkapan ini juga bisa dielaborasi lagi dimana dukungan dapat berbentuk\ndari bagaimana guru memberikan ruang dan kepercayaan yang luas bagi siswanya.\nPenggunaan berbagai macamm media untuk mengembangkan bakat siswa harus mampu\ndicermati oleh setiap guru. Adanya media-media digital seperti blogspot,\nwordpress dan juga <em>platform <\/em>lain dapat digunakan untuk mendukung proses\nbelajar siswa.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Selain dari <em>Patrap Triloka <\/em>yang\nsarat akan makna dan juga falsafah dalam kehidupan pendidikan. Pandangan lain\ntentang pendidikan juga diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar dalam pasal 31\ntentang pendidikan. Pada amandemen ke empat MPR mengamandemen pasal 31 tentang\npendidikan. Para anggota MPR rupanya mampu berfikir kritis bahwa untuk\nmemajukan sebuah bangsa dan juga tujuan negara maka yang ditempuh harus melalu\njalur pendidikan. Di pasal 1 dan 2 menjelaskan bahwa setiap masyarakat wajib\ndan berhak mendapatkan pendidikan dan pemerintahlah yang menanggung pendidikan\ndasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, di pasal 3\nmenjelaskan tentang bagaimana tujuan luhur dunia pendidikan Indonesia.\nPemerintah harus mampu merancang sebuah sistem pengajaran yang berskala\nnasional dan juga tidak hanya memmmikirkan kepintaran seetiap siswanya akan\ntetapi juga bagaimana untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan dan juga akhlak\nmulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini mempertegas lagi,\nmemperkuat dasar dan arah tujuan pendidikan nasiona dimana kata iman dan taqwa\ntidak hanya tercantum dalam Undang-undang saja namun juga termaktub dalam\nbatang tubuh UUD. Harapan yang visioner dari keimanan dan ketaqwaan dapat\nmembuat seluruh masyarakat menjadi beradab dan bermoral serta dapat mewujudkan\nkesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang bebas dari\nKorupsi, Kolusi dan Nepotisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Di pasal selanjutnya, pemerintah\nwajib menganggaran minimal 20% APBNnya untuk dialokasikan bagi dunia\npendidikan. Kesadaran mewujudkan sebuah tujuan ideal dari pendidikan nasional\nharus juga diimbangi dengan dukungan materil yang tidak sedikit juga.\nInfrastruktur pendidikan harus dipersiapkan agar sumber daya yang dimiliki oleh\nnegara ini kelak akan mampu bersaing dengan negara lain. Karena selain\ndibekalioleh ilmu yang mumpuni, juga diimbangi dengam keimanan dan ketaqwaan\nsetiap insannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibarat sebuah pepatah <em>tak ada\ngading yang tak retak <\/em>segala cita-cita luhur untuk membentuk sistem\npendidikan nasionalyang ideal pasti juga memiliki berbagai kekuarangan dan juga\npermasalahan yang timbul. Diera kapitalisasi membuat lembagga pendidikan\nmenjadi bahan komersialisasi dimana pendidikan menjadi komoditas yang tinggi\nuntuk dijual. Nyatanya, dengan mahalnya biaya pendidikan banyak siswa yang\nputus sekolah dan tidak mempu melanjutkan pendidikannya karena terkendala\nbiaya. Selain itu, kapitalisme juga mulai mengarahkan dunia pendidikan kedalam\naruspemenuhan pasar tenaga kerja. Pendidikan mendorong manusia untukmenjadi\nseorang budak perusahaan dibandingkan menjadikan manusia memiliki pemikiran\nterbuka dan juga kratifitas dalam hidup. <\/p>\n\n\n\n<p>Sistem pendidikan yang lebih\nmenonjolkan sisi kohnitif membuat penghargaan diberikan lebih tinggi kepada\nsiswa yang pintar dibidang matematika daripada yang berprestasi dibidang seni\ndan olahraga. Diferensiasi yang dilakukan menyebabkan anak merasa bahwa\nkemampuannya tidak begitu dihargai. Dengan berjalannya waktu maka anak mencoba\nhal lain diluar potensinya dan meninggalkan bakat dan minatnya sehingga potensi\ndalam dirinya tidak mampu terasah. Pelajaran yang selalu mengasah aspek\nkognitif ditambah prah dengan aspek penanaman softskill yang rendah. Hal ini\nyang membuat lulusan dalam negeri kurag mampu bersaing dengan lulusan luar\nnegeri. Kemampuan lulusan berdasarkan basic keilmuan masing-masing mungkin\nmasih bisa bersaing. Tapi hal-hal non-teknis seperti kemampuan berbicara\ndidepan orang banyak, rasa percaya diri dan interaksi terhadap sebuah\nperubahan, lulusan dalam negeri masih sangat payah. Bahkan survei yang\ndilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 tingkat pengangguran\nterbuka lulusan S1-S3 mencapai 737.000 orang. Hal ini mencerminkan gagalnya\nsistem pendidikan nasional yang mempu menjadikan setiap individu mandiri.\nDengan agregat yang begitu besar menandakan ada masalah yang sangat kompleks\ndalam dunia pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Belum lagi dengan tidak meratanya infrastruktur pendidikan yang ada menjadi masalah yang timbul dalam dunia pendidikan. Perbedaan antara sekolah dikota dan pelosok membuat kualitas pendidikan kota dianggap lebih baik daripada di desa. Pemerintah dianggap gagal dalam mengupayakan pemerataan pendidikan. Bahkan diTimur Indonesia siswa yang akan belajar harus menempuh berjalan berkilo-kilo meter untuk pergi ke sekolah. Belum lagi infrastruktur penunjang lainnya sepereti ketersediaan buku dan guru. Pergantian kurikulum tiap era menteri pendidikan banyak anggapan bahwa pemenuhan buku sekolah dijadikan sebagai bisnis oleh para pemilik usaha percetakan. Biaya pendidikan seharusnya ditingkatkan lagi agar semua warga negara tertolong dan dapat mendapatkan pendidikan yang layak.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, pemerintah juga tetap\nmengupayakan untuk memenuhi hak setiap warga negara. Adanya beasiswa bidik misi\nmenjadi bukti bahwa pemerintah tidak juga tutup mata terhadap orang-orang yang\nkurang mempu yang memiliki semangat untuk bersekolah. Berbagai macam program\npendidikan seperti merdeka belajar juga dikeuarkan untuk mengatasi kejenuhan\nsistem pendidikan saat ini. Tapi, alangkah baiknya setiap prosedur dan juga\nkebijakan yang dikeluarkan tidak hanya untuk memenuhi program kerja saja namun\njuga harus selaras dengan tujuan sistem pendidikan nasional yang diamanahkan\noleh Undang-undang Dasar 1945. Hal ini agar tidak memunculkan sebuah kebijakan\nyang tumpang tindih. <\/p>\n\n\n\n<h6 class=\"wp-block-heading\"><em>Menulislah agar generasai setelahmu tau, bahwa kau pernah hidup<\/em><\/h6>\n\n\n\n<p>Daftar bacaan<\/p>\n\n\n\n<p>Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945<\/p>\n\n\n\n<p>Freire, Paulo. 2001. <em>Pendidikan Yang Membebaskan. <\/em>Jakarta\nTimur : Media Lintas Batas<\/p>\n\n\n\n<p>Rusdiana, Ahmad. 2012. <em>Kebijakan Pendidikan Dari Filosofi Ke\nImplementasi.<\/em> Bandung: Pustaka setia<\/p>\n\n\n\n<p>Media online<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ki_Hadjar_Dewantara\">https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ki_Hadjar_Dewantara<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.inews.id\/finance\/makro\/per-agustus-2019-pengangguran-lulusan-universitas-capai-737000-orang\">https:\/\/www.inews.id\/finance\/makro\/per-agustus-2019-pengangguran-lulusan-universitas-capai-737000-orang<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/katadata.co.id\/infografik\/2019\/05\/17\/angka-pengangguran-lulusan-perguruan-tinggi-meningkat\">https:\/\/katadata.co.id\/infografik\/2019\/05\/17\/angka-pengangguran-lulusan-perguruan-tinggi-meningkat<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Refleksi Hari Pendidikan : Cita-cita luhur Pendidikan Indonesia (Oleh : Adam Dewo Pratama) Setiap awal bulan Mei tepatnya pada tanggal 2, seluruh insan akademis Indonesia merayakan harinya yaitu Hari Pendidikan&nbsp; Nasional (Hardiknas). Adanya hardiknas ini tidak terlepas dari bagaimana sejarah panjang dunia pendidikan di Indonesia sejak zaman kolonialisme. Pengambilan tanggal tersebut bertepatan dengan hari kelahiran<a class=\"excerpt-readmore\" href=\"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/?p=582\">&hellip;Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":588,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-582","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kegiatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/582","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=582"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/582\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":587,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/582\/revisions\/587"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=582"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=582"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bemfisip.unsil.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=582"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}